Lokasi: Jalan Lingkar Timur Tomohon Utara | Fasilitas: Penginapan, Wedding Chapel, Outbound, Amphiteatre, Jalan Salib dan Gua Maria | #BukitDoaMahawu

PLS 2023 SMP Lokon di Bukit Doa Mahawu

Pengenalan Lingkungan Sekolah 82 siswa kelas 7 SMP Lokon TA 2023-2024 ditutup di Bukit Doa Mahawu.

Romantisme Wedding Party di Bukit Doa Mahawu

Bentangan garis lampu memayungi mesera setiap undangan para tamu pesta perkawinan bernuansa alam di Bukit Doa Mahawu.

Camping PLS SMA Lokon di Bukit Doa Mahawu

Camping Ground Bukit Doa Mahawu menutup rangkaian Pengenalan Lingkungan Sekolah 154 siswa angkatan 21 SMA Lokon.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

22/03/2013

Ibu Menhan Purnomo cs Berdoa Di Jalan Salib



TOMOHON, Bukit Doa Mahawu - Ibadah Jalan Salib merupakan perwujudan dan ekspressi iman seorang sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit. Napak tilas kisah sengsara Tuhan Yesus sama halnya dengan mengenang kembali karya penyelamatanNya di dunia.


Untuk mengadakan jalan salib itu, Bukit Doa Mahawu, yang berlokasi di kaki Gunung Mahawu, Tomohon, terbuka bagi siapa yang ingin mengekspresikan imannya dalam ibadat Jalan Salib. Jalan Salib Mahawu yang dibangun di lokasi itu menawarka keunikan tersendiri. Patung-patung diorama diletakkan di tengah jalan untuk membantu peziarah agar khidmat dalam mengikuti Yesus yang sengsara, wafat dan bangkit.

Ada empat belas perehentian. Dimulai dari Yesus yang diadili oleh Pilatus, sampai Yesus di salibkan di puncak Golgota dan kemudian diturunkan dan kemudian Bunda Maria memangku jenasah Yesus di Taman Pieta pada perhentian yang ke 13. Setelah itu, masuk ke kubur Yesus yang berupa terowongan besar dan di tengahnya ada makam Yesus yang dilengkapi batu-batu simbol nisan Yesus dan di ruang itu ada ventilasi simbol Yesus telah bangkit.


Jalan Salib itu kemudian mengarah ke Gua Maria Santissima Mahawu. Setelah peziarah mengenang kembalim kisah sengsara, lalu "Per Mariam Ad Jesu" dengan perantaraan Bunda Maria, Bunda Yesus, doa-doa disampaikan agar dikabulkan oleh Yesus, Tuhan Penyelamat manusia.

Itulah kenapa, Ibu Menhankam RI, Ibu Purnomo dan rombongan berkenan berdoa di Jalan Salib itu. Berikut foto-foto terlampir, kontribusi dari Anis Dewanti.

Share:

14/09/2012

Objek Wisata, Salah Satu Bentuk Penanaman Modal Efektif

TOMOHON, Bukit Doa Mahawu - Salah satu wakil dari manajemen Bukit Doa Mahawu, Jumat kemarin (13/9) menghadiri undangan Pemkot Tomohon untuk ikut dalam pertemuan yang diberi judul "Koordinasi Antar Lembaga Dalam Pengendalian Pelaksanaan Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing" di kantor Walikota Woloan.

Mengapa Bukit Doa Mahawu diundang untuk hadir dalam pertemuan itu? Apa relevansinya dengan objek wisata religi sekaligus alam itu? Atau pemerintah melihat bahwa Bukit Doa Mahawu yang sudah terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan dalam negeri dan asing, sebagai wujud investasi dalam bentuk penanaman modal dalam negeri oleh swasta (private sector)?

Justru karena pertanyaan-pertanyaan itu kami datang untuk semakin lebih mengetahui bagaimana pandangan dan sikap berbagai pihak tentang Bukit Doa Mahawu yang dikelola oleh swasta. Penasaran terkait tidaknya dengan acara itu, berbuah pada tanja jawab berikut ini.

"Bukit Doa jelas sudah menjadi objek wisata dan pengunjungnya datang dari luar Sukawesi bahkan luar negeri. Fakta ini semakin menjujung kota Tomohon terkenal sebagai kota wisata. Tapi, apakah pemkot suudah mengetahui apa yang sebenarnya menjadi daya tarik mereka untuk datang? Saya jawab ada dua. Yang pertama ada "rasa aman". Yang Kedua adalah souvenir, atau ada sesuatu yang bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan telah mengunjungi tempat itu. Untuk itu, mohon tanggapan dari pemkot" tanya Pak Lorens GM Bukit Doa Mahawu.

"Untuk menciptakan suasana aman, sudah ada Polisi wisata. Hanya perlu koordinasi antara pengelola dengan  polisi wisata dengan baik, termasuk komunikasinya. Soal souvenir memang belum ada yang menjadi barand image kota Tomohon. Segera diusahakan" jawab salah satu panelis dalam acara itu.

Walikota Tomohon Bpk. Jimmy F. Eman, SE, Ak mengatakan dalam sambutannya, "Pelaksanaan kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam upaya membangun dan membina hubungan yang saling menguntungkan secara ekonomis antara usaha besar, kecil dan menengah di kota ini. Semoga iklim penanaman modal di kota ini makin bergairah yang imbasnya sangat positif karena meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tentu bukan tanpa tantangan untuk wujudkan kehendak baik ini. Meski demikian, optimiis dan semangat adalah sikap yang harus ditanamkan demi lancarnya penanaman modal di kota ini".

Dalaam pertemuan itu, direkomendasikan tentang hak investor sesuai dengan UU Penanaman Modal, yaitu kepastian hukum dan perlindungannya, kenyamanan, informasi terbuka tentang bidang usaha yang dijalankan, pelayanan, dan fasilitas-fasilitas yang lain.

Jika ada hak pasti juga ada kewajiban setiap penanam modal yaitu menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik, tanggung jawab sosial perusahaan, laporan penanaman modal kepada kepala penanaman modal, mematuhi semua ketentuan yang disyaratkan oleh undang-undang.

Sekali lagi, kerjasama antara usaha kecil, menengah dan besar perlu dilaksanakan untuk membangun kota Tomohon yang lebih baik lagi.

Nara sumber pertemuan itu adalah GM Pertamina Geotermal Energy Lahendong, Ir Khairul Rozag dan Sekretaris Eksekutif BIMP EAGA (The Brunai Darusalam Indonesia Malaysia Philipina East Growth Area) atau pengembangan kawasan Indonesia Timur, Ibu Shelley Sondakh.

sumber tulisan: Lorens Rawung, GM Bukit Doa Mahawu

http://www.tomohonkota.go.id

Share:

30/05/2012

Menggaris Tulang Rusuk Agar Tetap Bahagia


Tulang rusuk senantiasa berkorelasi dengan kehidupan manusia. Dari tulang rusuk Adam, terciptalah Hawa, demikian Kitab Kehidupan bernazar hingga kini. Dari sejoli manusia (pertama) inilah Sang Creator kemudian menciptakan keturunan tak henti-hentinya hingga menjadi suku bangsa di dunia. Di saat itulah, Sang Creator memproklamirkan bahwa semua ciptaan-Nya adalah baik adanya.

Titik nadir sebuah garis keturunan mulai berpangkal hingga berbuah asiran jamak ke ujung bumi. Manusia bertambah banyak dan menghuni seantero bumi ini. Rasanya, tak sulit untuk meyakini bahwa, karena “tulang rusuk” Adam inilah, terlahir manusia bergenerasi hingga kini. Bertambahnya manusia di jagad maharani, makin menghidupkan kisah penciptaan dalam setiap ikatan perkawinan.



Dari perkawinan, noktah kisah “Tulang rusuk” berkelanjutan dari masa ke masa membentuk jamannya sendiri. Tulang rusuk adalah garis-garis melengkung yang berkorelasi dengan tugas manusia untuk menjadi “co-creator” dengan Sang Creator sejati. Sebuah tugas mulia, diserahkan oleh Tuhan untuk melanjutkan keturunannya.

Keberlangsungan yang begitu lama akhirnya tercipta sejarah kehidupan. Latar belakang sejarah kehidupan manusia inilah sumber inspirasi bagi berdirinya bangunan unik ini. Berlokasi di kaki Gunung Mahawu, bangunan ini sangat monumental hingga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin berwisata religi di sini.

Kerangka bangunannya, ditopang mahakuat oleh sembilan tulang rusuk besi baja hingga menyerupai kapal terbalik. Bentuknya seperti kapal mengingatkan akan sebuah sejarah penyelamatan yang dipimpin oleh Nabi Nuh.  Karena itu, tak heran kalau ada yang mengatakan bangunan unik ini adalah kapalnya Nabi Nuh yang telah menyelamatkan manusia.



Jumlah 9 tulang rusuk besi baja sebagai kerangka pokok bangunan ini dipilih untuk mencitrakan angka sembilan sebagai  angka kesempurnaan hidup. Maka dari itu, jika pengunjung datang dan menggunakan bangunan ini niscaya berpacu dalam kesempurnaan hidup sebagai butir-butir spirtual yang masuk dalam ruang batinnya.

Gaya arsitektur “kesempurnaan  kehidupan” ini, dengan 9 kerangka tulang-rusuk berkolaborasi dengan garis-garis lurus pada perabotan pelengkap bangunan ini. Tak hanya soal itu, sentuhan minimalis modern yang terbalutkan erat pada bangunan unik ini, memadukan sifat garis lengkungan dan garis lurus. Antara kelurusan hidup dan ketidaklurusan dalam menjalani hidup.  Peperangan antara yang baik dan yang buruk senantiasa menjadi tantangan lumrah bagi manusia  co-creator.

Bukan tanpa maksud bangunan ini menonjolkan sembilan tulang rusuk yang berkorelasi dengan guratan kayu bermotif serba garis lurus. Kesempurnaan hidup dimulai dari kesadaran diri bahwa manusia itu terbatas. Menggapai hal yang lebih dari pada cukup, bisa berakibat ketidaksempurnaan dalam perjalanan hidup. Tak heran manusia berjatuhan dalam kubangan dosa, akibat membuat pilar-pilar
keserakahan, kemunafikan, kebohongan, kesombongan dan tidak takut akan Tuhan, sebagai tonggak utama hidupnya.



Garis melengkung yang sepandan dengan garis lurus pada garis pokok furniture-nya memang mendominasi bangunan Chapel ini agar indah dan berguna bagi siapapun yang menghadirkan dirinya dan berotonomi-korelasi secara utuh dengan bangunan ini. Kebahagian sejati seharusnya didapat ketika manusia begitu dekat dengan bangunan berkerangka tulang rusuk ini.

Bangunan ini dikenal sebagai Chapel of Mother Mary, Bukit Doa Mahawu, Tomohon. Di tempat ini, sering dilangsungkan upacara pemberkatan perkawinan. Keunikan arsitektur bangunan ini dan arti serta makna yang terkandung, menjadi pilihan bagi mereka yang menyempurnakan hidupnya dalam mahligai perkawinan. Tak jarang pula, tempat ini menjadi lokasi atau spot yang cocok untuk foto pre-wedding.



Tulang rusuk adalah garis melengkung yang penuh dengan arti dan makna bagi kehidupan. Jika tulang rusuk hilang satu, maka terjadilah kehancuran bagi bangunan ini dan kehidupan keluarga yang dibangunnya.

Karena itu, foto-foto koleksi pribadi yang saya sertakan semata-mata untuk menjawab antangan WPC-3 tentang Garis dalam fotografi.
Share:

09/04/2012

Yang Hidup, Yang Mati Ada Di Tempat Yang Indah



Kematian bisa datang kapan saja dan kadang tak terduga. Penyebab kematian pun bisa beraneka ragam. Mulai dari sakit, kecelakaan, hingga dibunuh atau bunuh diri. Karena itu, manusia rasanya hanya hidup untuk menuju pada kematiannya sendiri.

Jika memang benar seperti  itu, maka pertanyaannya adalah sia-siakah hidup kita ini? Bagi orang yang pesimis bisa jadi, bergulirnya waktu dari lahir hingga mati adalah sebuah keniscayaan. Namun, bagi orang yang optimis, waktu adalah saatnya melipatgandakan berkat untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Hari Jumat ini (6/4), adalah hari libur Nasional untuk memperingati Wafat Yesus Kristus. Bagi umat kristiani, hari ini adalah hari Jumat Agung. Keagungannya nampak nyata pada kisah jalan salib Yesus yang berbuah kesengsaraan, penderitaan dan akhirnya Wafat di Salib. Kebangkitannya di malam Paskah menjadi puncak kehidupan umat beriman bahwa kematian diubah menjadi kebahagiaan, melalui kebangkitan-Nya.

Sudah berabad-abad lamanya, Yesus wafat. Namun, setiap tahun hingga sekarang, kisah kesengsaraan, kematian dan kebangkitan Nya, selalu dikenang oleh umat kristiani. Berbagai macam upacara, ibadat bahkan melalui puasa dan pantang, dilaksanakan oleh seluruh umat kristiani sedunia dalam waktu yang bersamaan. Puncak liturginya ada pada malam Paskah.

Pada malam Paskah itu, setiap umat menyalakan lilin yang apinya diambil dari lilin Paskah. Prosesi ini menjadi sarana dan tanda bahwa kebangkitan Yesus mengalahkan kuasa maut dan kematian. Kuasa kegelapan sirna. Terang Kristus menjadi sumber kehidupan. Tak ada lagi kematian yang sia-sia. Beriman pada Yesus Kristus yang bangkit berarti telah disediakan tempat yang indah bagi manusia.

Dan tempat yang terindah itu adalah tempat di mana manusia rindu berjumpa dengan Allah. Rindu untuk mengenang kembali kisah jalan salib Yesus. Dengan mengenang  kisah itu, umat beriman mengambil banyak makna untuk peziarahannya di dunia ini. Yang jelas manusia ingin bahagia dan kebahagiannya berasal dari perbuatan dan tingkah lakunya yang jauh dari dosa.

Salah satu tempat ziarah yang banyak dikunjungi oleh umat dan bahkan wisatawan dari luar negeri adalah Jalan Salib Mahawu. Via dolorosa, demikian para peziarah menyebutnya, berada di kaki Gunung Mahawu sebelah barat dan lokasinya hanya membutuhkan waktu 45 menit dari Bandara Sam Ratulangi. Pengunjung tak akan tersesat karena tempat ziarah itu berada di Bukit Doa Tomohon. Menyebut nama ini, masyarakat akan menunjukkan jalannya.

Pada Jumat Agung dan bulan Mei, Oktober, banyak rombongan melakukan jalan salib di tempat itu. Sejak pagi  hingga sore, rombongan silih berganti. Sambil mengumandangkan lagu-lagu kesengsaraan, mereka beribadat mulai dari perhentian pertama hingga ke empat belas. Setiap perhentian ada patung diorama yang menceritakan tentang kisah sengsara hingga wafat Yesus dan dikubur.

Columbarium
Di setiap perhentian, Pastor membacakan kembali kisah Jalan Salib Yesus yang disertai dengan sepenggal renungan aktual  tentang kebiasaan-kebiasaan manusia yang membuatnya jatuh dalam dosa. “Sengsaramu oh Yesus, akibat dosaku….”, demikian sepenggal nyanyian yang mengingatkan para peziarah untuk b ertobat.
Selain patung diorama jalan salib setinggi manusia yang diletakkan di tengah jalan sebagai simbol “mengikuti jalan salib-Nya”, kesejukan alam dan suasana hutan juga menjadi daya tarik tersendiri. Berada pada kurang lebih 900 meter dpl, lokasi ziarah itu berhawa sejuk dan tidak mudah membuat capek atau kehausan meski kontur jalan setapaknya berbukit-bukit. Lebih indah kalau sudah sampai di puncak bukit. Pemandangan alam dan bangunan yang berkonsep “sinergitas alam, bangunan dan rohani” tak hanya membuat decak kagum tetapi setiap orang tergoda untuk mengabadikannya dalam kameranya.

Keheningan suasana jalan salib Mahawu ini jauh berbeda dengan jakan salib di tanah suci Yerusalem. Katanya, jalan salib di sana sudah ramai oleh orang-orang berjualan. Demikian cerita seorang pastor yang baru saja pulang berziarah di tanah suci. Tak heran jika ada yang menilai bahwa Jalan Salib Mahawu di komplek Bukit Doa Tomohon ini lebih bisa hening, khusuk, ditambah alamnya yang indah dan suara gemercik air lewat selokan alam, memberi suasana tersendiri.

Jadi, yang mati, yaitu kematian Yesus dan yang hidup, yaitu para peziarah, sama-sama berada di tempat yang indah yaitu di lokasi Bukit Doa Tomohon yang berpotensi juga sebagai wisata alam. Untuk mengetahui lebih lengkap, silahkan mengunjungi  dan klik blog Bukit Doa Tomohon ini.

Dan Selamat Paskah bagi yang merayakan.
Share:

06/04/2012

Jumat Agung, Jalan Salib Mahawu dan Air Berkat


Kakaskasen, sebuah desa di Kecamatan Tomohon Utara, di kaki Gunung Mahawu dan Gunung "berapi" Lokon menyimpan potensi wisata religi yang cukup menarik. Dari Bandara Sam Ratulangi, Manado, ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam. Peziarah yang ingin berdoa dan beribadat, tak sulit menemukan tempat ini. Hampir sebagian besar masyarakat tahu di mana lokasi Bukit Doa Tomohon,

Jumat Agung pagi ini (6/4/2012), hari Wafat Yesus, sejumlah rombongan datang untuk memapaki kembali kisah sengsara dan wafat Yesus di Jalan Salib Mahawu, Bukit Doa Tomohon. Tampak Pastur Vecky Singal, Pr, Rektor Seminari Menengah Kakaskasen, memimpin devosi Jalan Salib dengan khidmat. Buku doa yang dipakai adalah buku doa yang dicetak full colour dengan foto-foto Jalan Salib yang bagus. Buku itu memang disediakan oleh pihak pengelola JSM buat para peziarah.


Setiap perhentian, kidung kesengsaraan dikumandangkan, menambah suasana kesedihan atas wafatnya Tuhan Yesus. Ada 14 perhentian Jalan Salib atau sering disebut via dolorosa. Setiap perhentian ada patung diorama setinggi manusia dan diletakkan di tengah jalan setapak yang berkontur bukit, namun tak begitu terjal. Adegan kisah sengsara Tuhan Yesus dalam setiap perhentian, sengaja diposisikan di tengah jalan karena ingin mengajak peziarah untuk mengikuti Yesus dengan lebih dekat.

Mulai dari perhentian pertama hingga perhentian ke empat belas, Pastor berhenti dan membacakan renungan serta mengajak umat untuk bedoa bersama. Sebelum lanjut ke perhentian berikutnya, doa Bapa Kami dan Salam Maria didoakan. Kekhusukan makin terasa ketika sampai pada bukit Golgota ketika Yesus disalibkan.


Jalan Salib Mahawu ini berakhir di makam Yesus yang kosong. Rupanya, jalan salib ini menggunakan tradisi Injil Yohanes yang mengisahkan bahwa setelah Yesus wafat maka Yesus bangkit ke surga sehingga makam jadi kosong. Lepas dari makam Yesus, yang desainya masuk dalam sebuah lorong dan peziarah keluar di jembatan menuju ke gua (grotto) Bunda Maria. Nama Gua Maria ini adalah Gua Maria Sanctissima Mahawu.

Di depan gua Maria, sambil menyalakan lilin, rombongan Pastor Vecky menyelesaikan ibadatnya. Tampak beberapa umat membasuh wajahnya denga air segar yang keluar berada di bawah patung Bunda Maria. Konon, karena air berasal dari sumber air yang tidak pernah mengering, banyak peziarah mengartikan sebagai berkah yang berlimpah yang boleh diberikan Tuhan bagi mereka yang berdoa. Tak heran, jika peziarah membasahi mukanya dengan air dari sumber yang tak pernah mengering ini.


Selamat Paskah 2012
Manajemen JSM, Bukit Doa Tomohon
Share:

ARSIP Per Bulan

Definition List

Unordered List

Support